Teater EMPUL

Media untuk saling share sesama anggota juga sesama teater seIndonesia . .. . .

Jumat, 13 Desember 2013

CASH FOR VISIT

Klik, daftar kurang dari 30 detik, dapat bonus 25 US$, Setelah daftar, promosikan link anda yang tertera dalam page anda, setiap visitor yang mendaftar dari page anda, anda mendapat bonus 10 US$, tunggu apalagi, klik, daftar segera, bonus anda dapat diuangkan melalui western union setelah mencapai 300 US$! Kapan lagi dapat uang cuma-cuma, ayo gabung.  KLIK DISINI

Click, register less than 30 seconds, can be a bonus 25 U.S. $, after the list, promote your link listed in your page, each visitor who signs up from your page, you get a bonus of 10 U.S. $, are you waiting for, click, register soon, bonuses you can be cashed through western union after reaching 300 U.S. $! When else can money for free, come join. CLICK HERE


Rabu, 30 Oktober 2013

KENDURI TEATER JAKARTA

BERAWAL :

Sudah lama kita tak bermain-main…….
Sudah lama kita tak berteriak-teriak…….
Sudah lama kita tak bergerak……….
Sudah lama kita…….ya kita….memangnya siapa???

Mungkin ini adalah kesempatan untuk bernegosiasi?
Mungkin ini adalah kesempatan untuk berkolaborasi?
Mungkin ini adalah kesempatan untuk berimaginasi?
Mungkin ini adalah kesempatan untuk bersillaturrahmi?
Ya mungkin saja…..Kalau kita mau???

Tak ada salahnya kita coba untuk berekspresi
Siapa tahu kita dapat salari
Ya kita coba saja….Kenapa tidak?!

Anda…Saya…Kamu….Kau….Kita….dan kami….
Semoga dapat berkarya bersama dalam acara……

Sinopsis Lonceng dan Sang Penipu

RANCANGAN
PEMENTASAN TEATER
TAHUN 2012



“ LONCENG DAN PARA PENIPU “
Naskah karya Bambang Oeban

Dipentaskan Teater  EMPUL
JAKARTA



AWALAN

Sebuah komunitas anak SMA 40 yang gandrung akan seni peran membuat gagasan pementasan ketika saat ini usia mereka sudah di angka 40+. Akankah mampu mewujudkan kreatifitas dan aktivitas sebuah pertunjukkan… lihat saja nanti…!!!!!
Tak ada salahnya sebuah ide diciptakan dan mencoba bernostalgia dengan kemampuan yang ada saat ini.
Tak ada salahnya berbagi dengan komunitas lain yang sejalan dan seirama dalam alunan nada-nada kontemporer.
Bisa jadi ini sebuah pertunjukkan yang dahsyat atau malah sebaliknya, tertatih-tatih, maklum saja.
Tapi ada beberapa komunitas binaan yang menawari ikut terlibat dan mau bekerjasama dalam pementasan ini, ya sudah kita akan berkolaborasi dan bersinergi, mudah-mudahan ini akan menjadi sesuatu yang akan mendobrak format sebuah pertunjukkan.
Kita Do’akan saja!!!!!.....

SINOPSIS
         

   Akibat musim kemarau panjang, penduduk dikaki gunung kidul menghadapi ujian yang begitu berat. Mereka tidak dapat bertani disebabkan, sawah dan sungai kekeringan air, dan menjelma menjadi hamparan tanah yang meretak. Musibah kelaparan dimana-mana. Berbagai penyakit merajalela. Berita kematian seringkali terjadi.
            Termasuk berdampak pada keluarga Parmin. Bagaimana ia tidak bingung, disamping uang simpanannya habis, ia juga terjerat oleh pinjaman uang yang berbunga. Parmin menolak ketika Ponirah (istrinya) menganjurkan untuk mencari kayu ke gunung. Beresiko berat karena pohon-pohon di gunung dalam pengawasan Negara.Ia tidak ingin nasibnya seperti Paino, mendekam di penjara karena terlibat kasus pencurian kayu.
            Padahal Parmin masih mempunyai barang berharga yang bisa dijual yaitu seekor kerbau. Sehubungan kerbau tersebut merupakan warisan dari alm. Ayahnya, Parmin senantiasa menjaga amanah agar Lenguh (nama kerbau) jangan sampai dijual, sekalipun dalam keadaan ekonomi sulit. Parmin takut untuk menjual kerbaunya.
            Ibu Surti sebagai penagih hutang, mengancam: apabila dalam waktu 3 hari, Parmin tidak bisa melunasi hutang yang jumlahnya jutaan rupiah, maka dengan terpaksa kerbau akan diambil. Dan bertepatan saat itu pula, tiba-tiba onah (anak Parmin) terserang penyakit. Ia dan istrinya bertambah kalut. Mereka khawatir kalau nasib Onah, seperti kakaknya, meninggal dunia karena sakit.
            Pada akhirnya, Parmin harus merelakan kerbaunya untuk dijual, karena kebutuhan ekonomi sangat mendesak. Tapia pa yang terjadi?
Parmin ditipu oleh Gento, Gendon, dan Gembor. Dengan alasan, saat ini, kerbau harganya jatuh karena tersebar isu penyakit kerbau gila, Parmin tersugesti dan melepas kerbaunya kepada Gento dengan harga murah, Parmin hanya minta kalung kerbaunya sebagai kenang-kenangan.
Pada saat Gento, Gendon, dan Gembor pesta mabuk, Parmin mengintip mereka dan tahu kalau kerbaunya dijual dengan harga tinggi, Parmin kesal. Ia pun mendapatkan akal bagaimana uang hasil penjualan kerbau, bisa didapatkannya. Parmin bekerjasama dengan beberapa pedagang.
            Gento, Gendon, dan Gembor terkagum-kagum menyaksikan bahwa lonceng lenguh (lonceng kerbau) yang dipakai Parmin berkhasiat.
Hanya dengan menggeleng-gelengkan kepala, bisa makan, bisa mendapatkan kaca mata, dan dapat hand phone, semua serba gratis. Mereka ingin sekali memiliki lonceng lenguh.
          Akhirnya, Parmin menyuruh istrinya menyamar sebagai Nyai Mpon-mpon (seorang dukun). Lonceng lenguh pun dihargai 12 juta rupiah oleh komplotan Gento.
Ketika Gento, Gendon, dan Gembor mempraktikan lonceng lenguh ke toko emas, ternyata tidak berhasil. Walhasil, malahan mereka jadi korban amuk massa, hingga babak belur. Bahkan dipenjara, dianggap telah melakukan perampokan.
            Setelah Onah sembuh dan dapat melunasi hutangnya, dengan uang yang tersisa, Parmin pun segera mengajak keluarganya untuk bertransmigrasi ke tanah seberang. Ia tidak ingin kehidupan keluarganya, seperti kemarau yang panjang. Betapa Ia merindukan suasana lingkungan alam yang masih hijau demi menyongsong masa depan.

Sekian..


Naskah Karya                : Bambang Oeban

Sutradara                      : Edi Salemba

Produksi                       : Teater EMPUL

PROSES PENATAAN CAHAYA



Proses kerja penataan cahaya dalam pementasan teater membutuhkan waktu yang lama. Seorang penata cahaya tidak hanya bekerja sehari atau dua hari menjelang pementasan. Kejelian sangat diperlukan, karena fungsi tata cahaya tidak hanya sekedar menerangi panggung pertunjukan. Kehadiran tata cahaya sangat membantu dramatika lakon yang dipentaskan. Tidak jarang sebuah pertunjukan tampak sepektakuler karena kerja tata cahayanya yang hebat. Untuk hasil yang terbaik, penata cahaya perlu mengikuti prosedur kerja mulai dari menerima naskah sampai pementasan.
Prosedur atau langkah kerja pada dasarnya dibuat untuk mempermudah kerja seseorang. Dari gambar di atas dapat diketahui bahwa kerja penata cahaya tidak hanya sekedar menata lampu, menghidupkan, dan mematikannya.


3.5.1 Mempelajari Naskah

Naskah lakon adalah bahan dasar ekspresi artistik pementasan teater. Semua kreativitas yang dihasilkan mengacu pada lakon yang dipilih. Tidak hanya sutradara dan aktor yang perlu mempelajari naskah lakon. Penata cahaya pun perlu mempelajari naskah lakon. Berbeda dengan aktor yang berkutat pada karakter tokoh peran, penata cahaya mempelajari lakon untuk menangkap maksud lakon serta mempelajari detil latar waktu, dan tempat kejadian peristiwa.
Mempelajari tempat kejadian peristiwa akan memberikan gambaran pada penata cahaya tempat cerita berlangsung, suasana dan piranti yang digunakan. Mungkin ada piranti yang menghasilkan cahaya seperti obor, lilin, lampu belajar, dan lain sebagainya yang digunakan dalam cerita tersebut. Ini semua menjadi catatan penata cahaya. Setiap sumber cahaya menghasilkan warna dan efek cahaya yang berbeda yang pada akhirnya akan memberikan gambaran suasana.
Tempat berlangsungnya cerita juga memberikan gambaran cahaya. Peristiwa yang terjadi di dalam ruang memiliki pencahaayaan yang berbeda dengan di luar ruang. Jika dihubungkan dengan waktu kejadian maka gambaran detil cahaya secara keseluruhan akan didapatkan. Jika perstiwa terjadi di luar ruang pada siang hari berbeda dengan sore hari. Persitiwa yang terjadi di luar ruang memerlukan pencahayaan yang bebeda antara di sebuah taman kota dan di teras sebuah rumah. Semua hal yang berkaitan dengan ruang dan waktu harus menjadi catatan penata cahaya.


3.5.2 Diskusi Dengan Sutradara

Penata cahaya perlu meluangkan waktu khusus untuk berdiskusi dengan sutradara. Setelah mempelajari naskah dan mendapatkan gambaran keseluruhan kejadian peristiwa lakon, penata cahaya perlu mengetahui interpretasi dan keinginan sutradara mengenai lakon yang hendak dimainkan tersebut. Mungkin sutradara mengehendaki penonjolan pada adegan tertentu atau bahkan menghendaki efek khusus dalam persitiwa tertentu. Catatan penata cahaya yang didapatkan setelah mempelajari naskah digabungkan dengan catatan dari sutradara sehingga gambaran keseluruhan pencahayaan yang diperlukan didapatkan.


3.5.3 Mempelajari Desain Tata Busana

Berdiskusi dengan penata busana lebih khusus adalah untuk menyesuaikan warna dan bahan yang digunakan dalam tata busana. Seperti yang telah disebut di atas, bahan-bahan tertentu dapat menghasilkan refleksi tertentu serta warna tertentu dapat memantulkan warna cahaya atau menyerapnya. Untuk menghindari hal-hal yang tidak dinginkan maka kerjasama antara penata cahaya dan penata busana perlu dijalin.
Hal ini juga berkaitan juga dengan catatan sutradara. Misalnya, dalam satu peristiwa sutradara menghendaki cahaya berwarna kehijauan untuk menyimbolkan sebuah mimpi, penata busana juga membuat baju berwarna hijau untuk menegaskan suasana tersebut. Penata cahaya bisa memberikan saran penggunaan warna hijau pada busana karena warna hijau cahaya jika mengenai warna hijau tertentu pada busana bisa saling meniadakan. Artinya, warna hijau yang ingin ditampilkan justru hilang. Untuk itu, diskusi dan saling mempelajari desain perlu dilakukan.

3.5.4 Mempelajari Desain Tata Panggung

Diskusi dengan penata panggung sangat diperlukan karena tugas tata cahaya selain menyinari aktor dan area juga menyediakan cahaya khusus untuk set dan properti yang ada di panggung. Selain bahan dan warna, penataan dekor di atas pentas penting untuk dipelajari. Jika desain tata panggung memperlihatkan sebuah konstruksi maka tata cahaya harus membantu memberikan dimensi pada konstruksi tersebut. Jika desain tata panggung menampilkan bangunan arsitektural gaya tertentu maka tata cahaya harus mampu membantu menampilkan keistemewaan gaya arstitektur yang ditampilkan.
Penyinaran pada set dekor tidak hanya berlaku untuk set dekor saja tetapi juga berlaku untuk lingkungan sekitarnya. Misalnya, di atas panggung menampakkan sebuah ruang yang di bagian belakangnya ada jendela. Ketika jendela itu dibuka dan lampu ruangan tersebut dinyalakan maka pendar cahaya dalam ruangan harus sampai ke luar ruangan melalui jendela tersebut. Tugas tata cahaya adalah menyajikan efek sinar lampu ruangan yang menerobos ke luar ruangan. Intinya, setiap detil efek cahaya yang dihasilkan berkaitan dengan tata panggung harus diperhitungkan. Semua harus nampak logis bagi mata penonton.


3.5.5 Memeriksa Panggung dan Perlengkapan

Memeriksa panggung dan perlengkapan adalah tugas berikutnya bagi penata cahaya. Dengan mempelajari ukuran panggung maka akan diketahui luas area yang perlu disinari. Penempatan baris bar lampu menentukan sudut pengambilan cahaya yang akan ditetapkan. Ketersediaan lampu yang ada dipanggung juga menentukan peletakkan lampu berdasar kepentingan penyinaran berkaitan dengan karakter dan kemampuan teknis lampu tersebut. Semua kelengkapan pernak-pernik yang ada di panggung harus diperiksa.
Ketersediaan peralatan seperti, tangga, tali, pengerek, rantai pengaman lampu, sabuk pengaman, sekrup, obeng, gunting, dan perlatan kecil lainnya harus diperiksa. Ketersediaan lampu baik jumlah, jenis, dan kekuatan dayanya harus dicatat. Asesoris yang dibutuhkan untuk lampu seperti; filter warna, kelem, pengait, barndoor, stand, iris, gobo, dan asesoris lain yang ada juga harus diperiksa. Ketersediaan dimmer dan kontrol serta kelistrikan yang menjadi sumber daya utama juga harus diteliti.
Semua yang ada di panggung yang berkaitan dengan kerja tata cahaya dicatat. Berikutnya adalah kalkulasi keperluan tata cahaya berdasar capaian artistik yang dinginkan dan dibandingkan dengan ketersediaan perlengkapan yang ada. Dengan mempelajari panggung dan segala perlengkapan yang disediakan penata cahaya akan menemukan kekurangan atau problem yang perlu diatasi. Misalnya, penataan boom pada panggung kurang sesuai dengan sudut pengambilan lampu samping untuk menyinari set dekor. Oleh karena itu diperlukan stand tambahan. Lampu yang tersedia masih kurang mencukupi untuk menerangi beberapa bagian arsitektur tata panggung, untuk itu diperlukan lampu tambahan.
Semua problem yang ditemui dan solusi yang bisa dilakukan kemudian dicatat dan diajukan ke sutradara atau tim produksi. Jika tim produksi tidak bisa menyediakan kelengkapan yang diperlukan maka penata cahaya harus mengoptimalkan ketersediaan perlengkapan tata cahaya yang ada. Misalnya, dengan menerapkan prinsip penerangan area dan memanfaat beberapa lampu sisa yang ada untuk efek tertentu.


3.5.6 Menghadiri Latihan

Untuk mendapatkan gambaran lengkap dari situasi masingmasing adegan yang diinginkan penata cahaya wajib mendatangi sesi latihan aktor. Selain untuk memahami suasana adegan, penata cahaya juga mencatat hal-hal khusus yang menjadi fokus adegan. Hal ini sangat penting bagi penata cahaya untuk merencanakan perpindahan cahaya dari adegan satu ke adegan lain. Perpindahan cahaya yang halus membuat penonton tidak sadar digiring ke suasana yang berbeda. Hasilnya, efek dramatis yang akan ditampilkan oleh cerita jadi semakin mengena. Sesi latihan dengan aktor akan memberikan gambaran detil setiap pergerakan aktor di atas pentas. Setelah mencatat hal-hal yang berkaitan dengan suasana adegan maka proses pergerakan dan posisi aktor di atas pentas perlu diperhatikan. Penyinaran berdasar area memang memberi penerangan pada seluruh area permainan tetapi tidak pada aktor secara khsusus. Dalam satu adegan tertentu mungkin saja aktor berada di luar jangkauan optimal lingkaran sinar cahaya. Oleh karena itu, aktor yang berdiri atau berpose pada area tertentu memerlukan pencahayaan tersendiri. Hal ini berlaku juga untuk tata panggung pada saat latihan teknik dijalankan. Penata cahaya perlu mendapatkan gambaran riil letak set dekor dan seluruh perabot di atas pentas. Dengan demikian, detil pencahayaan pada set dan perabot bisa dirancang dan diperhitungkan dengan baik.

3.5.7 Membuat Konsep

Setelah mendapatkan keseluruhan gambaran dan pemahaman penata cahaya mulai membuat konsep pencahayaan. Konsep ini hanya berupa gambaran dasar penata cahaya terhadap lakon dan pencahayaan yang akan diterapkan untuk mendukung lakon tersebut. Warna, intensitas, dan makna cahaya dituangkan oleh penata cahaya pada konsepnya. Tidak hanya penggambaran suasana yang dituangkan tetapi bisa saja simbol-simbol tertentu yang hendak disampaikan untuk mendukung makna adegan. Misalnya, dalam satu adegan di ruang tamu ada foto besar seorang pejuang yang dipasang di dinding. Untuk memberi kesan bahwa pemiliki rumah sangat mengagumi tokoh tersebut maka foto diberi pencahayaan khusus. Juga dalam setiap perubahan dan perjalanan adegan konsep pencahayaan digambarkan. Konsep bisa ditulis atau ditambahi dengan gambar rencana dasar. Intinya, komsep ini membicarakan gagasan pencahayaan lakon yang akan dimainkan menurut penata cahaya. Selanjutnya konsep didiskusikan dengan sutradara untuk mendapatkan kesesuaian dengan rencana artistik secara keseluruhan.

3.5.8 Plot Tata Cahaya

Konsep yang sudah jadi dan disepakati selanjutnya dijabarkan secara teknis pertama kali dalam bentuk plot tata cahaya. Plot ini akan memberikan gambaran laku tata cahaya mulai dari awal sampai akhir pertunjukan. Seperti halnya sebuah sinopsis cerita, perjalanan tata cahaya ditgambarkan dengan jelas termasuk efek cahaya yang akan ditampilkan dalam adegan demi adegan. Plot ini juga merupakan cue atau penanda hidup matinya cahaya pada area tertentu dalam adegan tertentu. Dengan membuat plot maka penata cahaya bisa memperhitungkan jenis lampu serta warna cahaya yang dibutuhkan, memperkirakan lamanya waktu penyinaran area atau aksi tertentu, merencanakan pemindahan aliran cahaya, dan suasana yang dikehendaki.
 Kolom “Hal” menjelaskan adegan tersebut terjadi pada naskah di halaman tertentu. Kolom “Aksi” menjelaskan kejadian peristiwa atau adegan. Kolom “cue” menjelaskan tanda perubahan cahaya yang harus dilakukan. Kolom “waktu” menjelaskan lamanya waktu adegan dengan cahaya tertentu. Kolom ”cahaya” menjelaskan hasil pencahayaan yang akan dicapai. Dengan membaca plot tersebut dapat diketahui bahwa cerita yang akan ditampilkan bernuansa horror di mana pada malam yang diterangi sinar bulan Anton dan Amir sedang duduk berbincang di kursi. Pintu tiba-tiba terbuka, kemudian tertutup dan lampu ruangan mati. Amir dan Anton lari keluar. Dari sekilas gambaran adegan tersebut dapat diketahui lampu yang akan digunakan dan efek cahaya yang dihasilkan. Setiap perubahan pencahayaan menjadi catatan dan bisa dijadikan cue. Dalam gambar dijelaskan ada empat cue perubahan.
Pada saat adegan dimulai, lampu sudah dipreset sehingga tingal dinaikkan intensitasnya. Cue perubahan tata cahaya pertama adalah ketika Anton dan Amir masuk ke ruangan, duduk di kursi dan menyalakan lampu yang ada di dekat kursi. Efek cahaya dari lampu yang dinyalakan ini menjadi penanda perubahan. Cue perubahan kedua terjadi ketika pintu terbuka dan efek cahaya bulan masuk melalui pintu. Demikian seterusnya sampai adegan tersebut berakhir dan lampu panggung dipadamkan (black out).

3.5.9 Gambar Desain Tata Cahaya

Untuk memberikan gambaran teknis yang lebih jelas, perlu digambarkan tata letak lampu. Berdasar pada plot tata cahaya yang dibuat maka rencana penataan lampu bisa digambarkan. Semua jenis dan ukuran lampu yang akan digunakan digambarkan tata letaknya. Sebelum menggambarkan tata letak lampu perlu diketahui dulu simbolsimbol lampu. Simbol gambar lampu mengelami perkembangan. Hal ini berkaitan dengan jenis lampu yang tersedia dan umum digunakan. Gambar di bawah memperlihatkan simbol-simbol lampu yang biasa digunakan.
Banyak sekali jenis dan ukuran lampu yang dikeluarkan oleh pabrikan. Masing-masing perusahan memiliki gambar simbol yang berbeda menyangkut bentuk luar lampu produksinya. Dulu, perusahaan Strand mengeluarkan lampu yang diproduksi dan diberi kode “pattern” disingkat “patt” dan nomor serinya. Jadi ada lampu dengan kode patt 23, patt 247, patt 123, dan lain sebagainya. Untuk mengethui jenis dan ukuran lampu harus mengingat patt dan nomornya. Cukup menyulitkan. Selain itu, lampu pada zaman ini memiliki bentuk yang berbeda dengan lampu sekarang sehingga ketika digambarkan simbolnya berbeda. Sekarang, meskipun bentuk lampu berbeda tetapi gambar simbolnya lebih mudah untuk diingat karena masing-masing jenis lampu memiliki kemiripan gambar. Penulisannyapun tidak lagi menggunakan “patt” tetapi langsung ke jenis lampu beserta besaran wattnya, misalnya fresnel 500 watt, ERS 1 KW, dan lain sebagainya. Gambar simbol lampu dalam gambar 70 sudah bisa digunakan dan dipahami oleh para penata lampu.





Selanjutnya, gambar tata lampu dibuat dengan menggunakan simbol lampu seperti tersebut di atas. Gambar pada tahap ini belum bisa menyertakan channel dimmer yang akan digunakan oleh masing-masing lampu. Gambar tata lampu lebih menitikberatkan pada peletakkan dan pengarahan jenis lampu yang akan dipasang. Meskipun belum menyertakan channel dimmer, gambar desain tata letak lampu yang dibuat bisa dijadikan panduan pencahayaan. Dari gambar di atas dapat dibaca, baris bar yang digunakan adalah FOH, Bar 1, 2, 3, dan bar siklorama. FOH singkatan dari Front Of House adalah istilah untuk menyebut baris lampu yang ditata di atas penonton. Cyc singkatan dari cyclorama (siklorama) baris lampu paling belakang untuk menyinari layar. Nomor pada lampu hanya berfungsi untuk menghitung jumlah lampu yang dipasang pada masing-masing bar. Jenis lampu yang digunakan dapat dibaca dari gambar simbolnya.

3.5.10 Penataan dan Percobaan

Setelah memiliki gambar desain tata cahaya maka kerja berikutnya adalah memasang dan mengatur lampu sesuai desain. Proses pemasangan membutuhkan waktu yang lumayan lama terutama untuk penyesuaian dengan channel dimmer dan control desk. Satu channel bisa digunakan untuk lebih dari satu lampu. Setiap lampu yang telah dipasang dalam cahnnel tertentu coba dinyalakan dan diarahkan sesuai dengan area yang akan disinari. Pengaturan lampu ke channel dimmer atau control desk diusahakan agar mudah dalam pengoperasian. Artinya, jarak lever satu ke lever lain diusahakan berdekatan bagi lampu yang hendak dinyalakan secara bersamaan tanpa preset. Pengaturan sudut pengambilan juga memerlukan ketelitian. Di sinilah fungsi menghadiri latihan dengan aktor diterapkan. Segala catatan pergerakan laku dan posisi aktor di atas pentas dapat dijadikan acuan untuk menentukan sudut pengambilan.





Setelah semua lampu dipasang dan diarahkan kemudian dicoba dengan mengikuti plot tata cahaya dari awal sampai akhir. Hal ini untuk mengetahui intensitas maksimal yang diperlukan, kesesuaian warna cahaya yang dihasilkan serta kemudahan operasional pergantian cahaya dari adegan satu ke adegan lain. Penata cahaya mencatat semuanya dengan seksama sehingga ketika tahap ini selesai didapatkan gambaran lengkap tata cahaya. Gambar tata cahaya sudah bisa dilengkapi dengan channel dimmer atau nomor di control desk (Gb.273) sehingga tabel lampu yang terpasang pada masing-masing bar bisa dituliskan dengan lengkap pula.





3.5.11 Pementasan

Tahap terakhir adalah pementasan. Seluruh kerja tata lampu dibuktikan pada saat malam pementasan. Kegagalan yang terjadi meskipun sedikit akan mempengaruhi hasil seluruh pertunjukan. Oleh karena itu, kecermatan dan ketelitian kerja penata cahaya sangat diperlukan. Penting untuk memeriksa semuanya sebelum jam pertunjukan dilangsungkan. Jika terdapati kesalahan teknis tertentu masih ada waktu untuk memperbaikinya. Semua sangat tergantung dari kesiapan tata cahaya karena tanpa cahaya pertunjukan tidak akan bisa disaksikan.


Sumber :
Santosa, Eko dkk, 2008, Seni Teater Jilid 2 untuk SMK, Jakarta : Pusat Perbukuan Departemen Pendidikan Nasional, h. 377 – 386.

REUNI ( Karya : Edianto Gatsugi )




ADEGAN PERTAMA
Sebuah Bis pariwisata meluncur dengan kencang dijalan perbukitan kebun teh, sore menjelang malam di pegunungan udaranya sangat sejuk terlihat sinar matahari yang mulai perlahan tertutup tabir malam. Keindahan alam pegunungan sangat nikmat dipandang mata menjelang malam. Dalam mobil bis pariwisata itu terlihat para penumpangnya yang asik ngobrol, yang asik mainkan hp dan ada beberapa tertidur pulas, karena perjalanan yang penat dan panjang. Ternyata mereka habis mengadakan acara Reuni sekolah di sebuah Villa besar di puncak bukit. Sudah 35 tahun mereka tak pernah berjumpa sejak lulus sekolah, usia mereka rata-rata diatas 45 sampai 55 tahun. Kerinduan akan tawa dan canda dikala sekolah dulu. Perjalanan hidup mereka membawa mereka kepada puncak pencapaian hidup Dunia, ada yang sukses dan juga yang terpuruk. Perbedaan sikap dan prinsip yang menentukan jalan hidup mereka. Memang misteri hidup ini???
Inilah kisah mereka…………

LAKI-LAKI1
“Aku guru yang hebat. Tanganku sangat luar biasa bisa mengocok kepala batu dan otak udang menjadi cemerlang. Betul, aku tidak main-main. Aku seperti tukang sulap. Itu semua sudah karunia. Tapi aku terpaksa keluar dan berhenti mengajar. Aku tidak mau lagi jadi guru.

LAKI-LAKI2
“Loh kenapa berhenti mengajar? Setahuku itukan cita-citamu sejak disekolah dulu…Karena kau tak suka cara guru waktu itu mengajar, Apalagi kalau sudah pelajaran bahasa Inggris, kau bilang bukan bahasaku…tapi sekarang kau guru bahasa inggris yang hebat!
LAKI-LAKI1
“Ya aku tahu itu, Aku memang murid yang bandel saat itu, siapa guru yang tidak kenal aku?! Tapi sekarang ini aku tidak suka, aku benci kepada birokrasi. Aku lihat sekolah kok tidak lagi memberikan pendidikan kepada calon pengganti generasi, tapi memperjual-belikan pendidikan. Ilmu sudah jadi barang komoditi seperti hasil pabrik. Diicrit-icrit supaya mahal. Publikasi dan fasilitasnya digembar-gemborkan, tapi hasilnya memble. Pendidikan hanya menjual sertifikat dan gelar, tidak bikin orang jadi pinter, apalagi siap
pakai.Bugh!
“Jadi jangan salahkan kalau aku lantas kabur dan mendirikan Akademi dan kursus bahasa Inggris. Sekolah mahal yang bergengsi dan bercita-cita mulia. Pendidikan yang bagus memang mahal, tidak mungkin gratis, itu omong kosong. Gaji guru mesti cukup karena mereka profesional, sarana mesti canggih supaya jangan ketinggalan zaman. Tapi yang bayar orang yang berduit. Makin dia kaya, makin tinggi bayarannya, itu sudah adil. Orang kaya dicekek tidak akan mati malah hartanya berlipat ganda. Orang kaya kalau kehilangan seperak akan langsung menggaruk sejuta tak peduli dari mana. Mereka semuanya pemain sulap.
Orang miskin lain, belum ditembak sudah pingsan, banyak yang mati mendadak!. Karena itu orang miskin berhak dapat pendidikan kelas satu sama dengan orang kaya dan gratis.
(Lelaki 1 ketawa. Lelaki 2 geleng-geleng kepala. Orang yang disebelah yang tadi asik mainkan HP jadi ikutan nimbrung, begitupun yang duduk dibangku belakang terusik juga dengan obrolan mereka)

LAKI-LAKI3
“Aku setuju dengan penadapat pak guru, memang orang miskin berhak mendapatkan layanan pendidikan yang sama dan gratis! Tapi ada juga orang miskin yang sombong! Sudah dibantu dan gratis malah banyak tingkah!... Wah muridnya semakin banyak dong? Dan tentunya profit benefit semakin besar!
LAKI-LAKI1
Betul. Puluhan ribu muridku. Kebanyakan anak-anak orang gedean yang bisa membayar berapa saja, asal anaknya bisa pinter. Dalam tempo singkat Akademi yang aku bangun menjadi idola. Kalau tidak bawa ijazah Akademi punyaku orang merasa kurang bergengsi. Habis setiap lowongan kerja mesti syarat pertamanya menguasai bahasa Inggris dan komputer. Tapi kalau bawa ijazah Akademi punyaku, semua itu tidak berlaku lagi. Langsung diterima dengan gaji pertama yang bikin ngiler. Apa nggak hebat?
(Lelaki 4 muncul dari belakang membawa minuman dan beberapa makanan kecil)

LAKI-LAKI 3
“Ngomong-ngomong berapa usiamu pak guru? Setahuku usia pension guru atau dosen sekitar 60 tahun.

LAKI-LAKI 1
“55 umurku!...memangnya aku pegawai negeri dapat pensiunan! Aku paling ogah jadi pegawai negeri.

Oooooooo( yang lainnya berucap )

LAKI-LAKI 4
“Sudah minum dulu, nih aku bawakan. (Menarik nafas) Aku dulu juga seorang manager disebuah pabrik besar bahkan aku pernah menduduki kursi direksi. Siang malam otakku berputar untuk mengembangkan dan memajukan pabrik itu, aku rekrut tenaga kerja yang bodoh dan mau dibayar murah, tak peduli punya ijazah atau tidak! Fasilitas hidupku terpenuhi. Aku bentuk serikat pekerja dibawah pengawasanku, aku yang buat perjanjian kerja, mereka tinggal sepakat saja. Kadang aku undur seolah-olah belum ada kesepakatan. (yang lain mendengarkan dengan acuh tak acuh)
“Reformasi mengubah segalanya, ternyata musuh selimut di perusahaanku banyak, mereka pengaruhi para pekerja dan direksi, hingga akhirnya aku dikeluarkan dari perusahaan itu, harta bendaku yang selama ini hasil jerih payahku, semua diambil alih oleh perusahaan itu, aku dituduh korupsi, padahal tidak banyak yang aku markup, tapi jatuhnya sakit sekali. Sekarang ini aku tinggal sendiri, anak dan istriku pergi karena malu. Saat ini aku hanya seorang pekerja biasa, seorang petugas kebersihan sekolah.(agak sedikit malu)
“Ooooooo…… ( serentak semua yang mendengarkan berucap )

LAKI-LAKI5
“Wah…Rupanya kalian orang-orang yang hidup sukses… Tapi akhirnya hati kalian merana, ketika sesuatu telah merubah cara pandang hidup kalian. Wah masih mending aku yang seorang pedagang meski tidak sesukses kalian, daganganku lancar-lancar saja. Sudah Pak Guru kalau nanti sudah tidak mengajar, ikut aku saja berbisnis! Bisnisku tak layu termakan waktu!

LAKI-LAKI2
“Ssst! Pak Guru ini belum selesai ceritanya, lanjutkan Pak Guru….

LAKI-LAKI1
(Menarik nafas panjang, setelah meminum air yang diberikan) Tapi aku masih tetap kecewa. Aku memang selalu berhasil mencetak alumni yang berprestasi, yang cerdas dan kompetetif seperti yang dikehendaki oleh Mentri Pendidikan. Tapi aku tetap gagal mencetak manusia yang berguna. Setelah pintar, semua anak didikku mempergunakan ilmunya untuk kepentingan diri mereka sendiri. Jelas sekali mereka cari ilmu hanya untuk jadi kaya. Ada yang ngebet jadi pemimpin, tapi begitu menduduki kursi, mereka mempergunakan kekuasaannya untuk memperalat rakyat! Aku merasa gagal total! Kalau sekolah hanya mengajarkan orang untuk sukses, cari kedudukan, menumpuk kekuasaan dan kekayaan, akhirnya seperti sekarang korupsi di mana-mana. Mantan anak didikku semua jadi orang sukses.
Pemimpin kakap, berpengaruh dan konglomerat. Tapi tidak seorang pun yang berhati mulia. Semuanya berjiwa dengki. Tidak usah 1 milyar, disogok motor saja tetap mau, padahal di rumahnya berderet mobil-mobil mewah, bahkan ada becak untuk dipamerkan kepada tamu-tamu asing. Malah sekarang yang mudanya pun ikut-ikutan korupsi!? Ini kenapa? Pendidikan yang salah? Guru yang keliru? Apa Moral kita bejat? Atau hidup memang sudah berubah buas?????? ( Semua menghela nafas, lalu..)
Begitu frustasi sehingga aku mau gulung tikar menutup akademi. Tentu saja semua orang protes. Bahkan ada yang mengancam kalau kau berani menutup Akademi, berarti kamu mau bunuh diri. Tinggal pilih mau mati diracun seperti tikus, kecelakaan menggenaskan, ditembak di pinggir jalan, dibom, atau disantet perlahan-lahan. Aku ngeri juga, karena aku bukan manusia pemberani. Sambil tertekan batin aku terus mengajar dengan separuh hati. Tapi bukan menyerah apalagi kalah! Sekarang hidupku ditentukan oleh orang-orang Yayasan itu!

PROFIL SINGKAT “TEATER EMPUL”

Latar belakang :

Berangkat dari keinginan dan kesukaan akan seni Teater, sekelompok pelajar SMA 40 yang di motori dan diprakarsai oleh Almarhum Heri Heryana dengan mengadakan kegiatan ekstrakurikuler seni drama. Meskipun awalnya tidak mendapat dukungan dari sekolah, namun akhirnya mereka mendapat tempat di hati para pelajar dan guru yang suka akan seni dengan dibuktikannya lewat ajang Festival Teater Pelajar tahun 1987 menjadi juara umum.
Sebelumnya di tahun 1986 kelompok Teater Empul ikut bergabung dalam pertemuan antar seniman Teater se Indonesia yang bertempat di Kota Padang, Sumatera Barat, dan di hadiri oleh tokoh-tokoh Seniman besar.


Identitas Teater  :

Nama Teater                 : Teater Empat Puluh ( EMPUL )

Didirikan Tahun              : 1986   
             
Nama Pembina              : Edi Salemba

Nama Pimpinan             : Edi Yanto

Alamat                          :Jl. Cikijang IV No. 37  RT 006/011   Kelurahan Koja Kecamatan Koja Jakarta Utara


Sekilas Perjalanan Produksi Teater Empul dari Tahun 1986 sampai saat ini :

Ø  Tahun 1986 Naskah pertama yang di pentaskan di gedung Granada membawakan karya Fajar Budiman yang berjudul “Pesta Nuklir”.

Ø  Tahun 1987 membawakan naskah karya B. Sularso berjudul “ABU” dalam Festival Teater Pelajar se Jakarta Utara bertempat di GRJU dan meraih Juara Umum, dengan katagori :
* Group Terbaik
* Artistik terbaik
* Sutradara Terbaik
* Aktor Terbaik
* Aktris Terbaik

Ø  Tahun 1988 membawakan naskah Arifin C. Noor berjudul “Kisah Cinta dll” dalam festival Teater remaja Jakarta di GRJU, Kemudian masuk Final dan membawakan naskah karya Joko Umbara berjudul “Sidang Para Setan” dan meraih juara 3

Ø  Tahun 1990 membawakan naskah berjudul “Arwah Romusha” Festival Teater remaja Jakarta di GRJU dan meraih juara 3

Ø  Tahun 1991 membawakan naskah karya Arifin C. Noor berjudul “AA II UU” dalam festival Teater remaja Jakarta di GRJU

             Ø  Tahun 1992 membawakan naskah karya Ikranagara berjudul “Topeng” di Festival Teater remaja                                             Jakarta di GRJU

Ø  Tahun 1993 membawakan naskah karya Arifin C, Noor berjudul “Kisah cinta di hari Rabu” di Kampus STIE dalam festival teater antar kampus dan mendapat Juara pertama piala Menpora


Beberapa pementasan kolaborasi dengan group-group lain dan pementasan dalam rangka pembinaan di kalangan pelajar dan masyarakat diantaranya :

Ø  Tahun 1989 membawakan naskah karya Edi Salemba berjudul “Nurlela gadis sinting” di Gedung Sasana Krida, Pademangan.  Mendapat dukungan masyarakat sekitar.
membawakan naskah kedua karya Edi Salemba berjudul “Manisan Cinta” di GRJU dalam rangka acara pembinaan pelajar SMA 40

Ø  Tahun 1995 membawakan naskah berjudul “Sketsa – sketsa” di Gedung Sasana Krida Pademangan

Ø  Tahun 1995 Membawakan naskah karya Bambang Oeban berjudul “Tamu dan Tuan Besar” untuk acara drama di TVRI

Ø  Tahun 1996 membawakan naskah karya Putu Wijaya berjudul “EDAN”  di Gedung Sasana Krida, Pademangan  


 Tahun 1997 sampai saat ini komunitas Teater tetap berjalan dengan melakukan kegiatan pertemuan-pertemuan. Beberapa kali pentas ke daerah-daerah, seperti Bandung dan Bogor. Beberapa anggota  terjun dalam dunia Intertainment, menjadi penDubbing di Stasiun Televisi Indosiar sampai saat ini, juga menjadi crew artistic di sinemart dan yang lainnya melanjutkan pengembangan seni drama dengan mengajar di sekolah-sekolah. Dan mereka menjadi Aktor – aktor handal dalam tugas dan pekerjaan, baik yang bekerja di perkantoran, wirausaha, pedagang, pemborong, juga ada yang bekerja di instansi Pemerintah.

Demikian sekilas tentang perjalanan Teater EMPUL sampai saat ini.

Pembina                                                                    

( Edi Salemba )                                                            

Sabtu, 08 Juni 2013

ELEMEN DALAM KELOMPOK TEATER


TEATER SEBAGAI ORGANISASI

Proses Teater merupakan sebuah proses organisasi (bentuk kerja kolektif; dimana segala macam orang dengan segala macam fungsinya tergabung dalam suatu koordinasi yang rapih,dan juga mencakup juga pengertian sampai batas-batas yang sentimentil), seperti hal nya diri manusia itu sendiri, atau layaknya seperti sebuah negara. Keberhasilan suatu pertunjukan Teater dapat juga sebagai keberhasilan suatu seni organisasi; baik organisasi penyelenggaraannya (Panitia Produksi) maupun segi seni-seninya (Penyutradaraan, Penataan set, Permainan, Musik dan unsur-unsur lain).

Berikut ini contoh Elemen dari sebuah Group Teater dalam mengadakan sebuah Produksi.
- Pimpinan Produksi
- Sekretaris Produksi
- Keungan Produksi / Bendahara
- Urusan Dokumentasi
- Urusan Publikasi
- Urusan Pendanaan
- Urusan Ticketing atau karcis
- Urusan Kesejahteraan
- Urusan Perlengkapan
- Sutradara
- Art Director / Pimpinan Artistik
- Stage Manager
- Property Master
- Penata Cahaya
- Penata Kostum
- Penata setting
- Perias / Make Uperl
- Penata Cahaya
- Penata Musik

Setiap Elemen memiliki tugas sendiri-sendiri dan sudah seharusnya untuk bertanggungjawab penuh atas tugas itu (secara profesional). Sebagai Contoh seorang Urusan Pendanaan, ia harus memikirkan seberapa besar dana yang dibuhtuhkan? Dari mana dana itu didapatkan. Begitupula seorang Sutradara yang bertanggungjawab atas pola permainan panggung; (akting pemain, cahaya, bunyi-bunyian, set, property dan lain-lain).
Jikalau kita memandang Elemen dalam Group Teater, ada kesamaan dengan elemen dalam tubuh kita sendiri; setiap organ tubuh memiliki fungsi sendiri, tetapi saling berhubungan dan tergabung dalam fungsi yang sempurna. Teater ibarat laboratorium kehidupan itu sendiri, seperti yang diungkapkan Peter Brook “Teater akan menjadi tempat yang indah bagi orang-orang yang mabuk dan kesepian, Teater merupakan sebuah tindak budaya, Teater bukanlah tempat untuk melarikan diri ataupun untuk mencari perlindungan”.

DAFTAR PUSTAKA
Hamzah Adjib A., Pengantar Bermain Drama, CV Rosda, Bandung.
Noer C. Arifin, Teater Tanpa Masa Silam, DKJ, Jakarta, 2005.
Iman Sholeh & Rik Rik El Saptaria, Module Workshop Keaktoran Festamasio 3, TGM, Yogyakarta, 2005.


Seumber dari: materiteater.blogspot.com