Teater EMPUL

Media untuk saling share sesama anggota juga sesama teater seIndonesia . .. . .

Rabu, 30 Oktober 2013

REUNI ( Karya : Edianto Gatsugi )




ADEGAN PERTAMA
Sebuah Bis pariwisata meluncur dengan kencang dijalan perbukitan kebun teh, sore menjelang malam di pegunungan udaranya sangat sejuk terlihat sinar matahari yang mulai perlahan tertutup tabir malam. Keindahan alam pegunungan sangat nikmat dipandang mata menjelang malam. Dalam mobil bis pariwisata itu terlihat para penumpangnya yang asik ngobrol, yang asik mainkan hp dan ada beberapa tertidur pulas, karena perjalanan yang penat dan panjang. Ternyata mereka habis mengadakan acara Reuni sekolah di sebuah Villa besar di puncak bukit. Sudah 35 tahun mereka tak pernah berjumpa sejak lulus sekolah, usia mereka rata-rata diatas 45 sampai 55 tahun. Kerinduan akan tawa dan canda dikala sekolah dulu. Perjalanan hidup mereka membawa mereka kepada puncak pencapaian hidup Dunia, ada yang sukses dan juga yang terpuruk. Perbedaan sikap dan prinsip yang menentukan jalan hidup mereka. Memang misteri hidup ini???
Inilah kisah mereka…………

LAKI-LAKI1
“Aku guru yang hebat. Tanganku sangat luar biasa bisa mengocok kepala batu dan otak udang menjadi cemerlang. Betul, aku tidak main-main. Aku seperti tukang sulap. Itu semua sudah karunia. Tapi aku terpaksa keluar dan berhenti mengajar. Aku tidak mau lagi jadi guru.

LAKI-LAKI2
“Loh kenapa berhenti mengajar? Setahuku itukan cita-citamu sejak disekolah dulu…Karena kau tak suka cara guru waktu itu mengajar, Apalagi kalau sudah pelajaran bahasa Inggris, kau bilang bukan bahasaku…tapi sekarang kau guru bahasa inggris yang hebat!
LAKI-LAKI1
“Ya aku tahu itu, Aku memang murid yang bandel saat itu, siapa guru yang tidak kenal aku?! Tapi sekarang ini aku tidak suka, aku benci kepada birokrasi. Aku lihat sekolah kok tidak lagi memberikan pendidikan kepada calon pengganti generasi, tapi memperjual-belikan pendidikan. Ilmu sudah jadi barang komoditi seperti hasil pabrik. Diicrit-icrit supaya mahal. Publikasi dan fasilitasnya digembar-gemborkan, tapi hasilnya memble. Pendidikan hanya menjual sertifikat dan gelar, tidak bikin orang jadi pinter, apalagi siap
pakai.Bugh!
“Jadi jangan salahkan kalau aku lantas kabur dan mendirikan Akademi dan kursus bahasa Inggris. Sekolah mahal yang bergengsi dan bercita-cita mulia. Pendidikan yang bagus memang mahal, tidak mungkin gratis, itu omong kosong. Gaji guru mesti cukup karena mereka profesional, sarana mesti canggih supaya jangan ketinggalan zaman. Tapi yang bayar orang yang berduit. Makin dia kaya, makin tinggi bayarannya, itu sudah adil. Orang kaya dicekek tidak akan mati malah hartanya berlipat ganda. Orang kaya kalau kehilangan seperak akan langsung menggaruk sejuta tak peduli dari mana. Mereka semuanya pemain sulap.
Orang miskin lain, belum ditembak sudah pingsan, banyak yang mati mendadak!. Karena itu orang miskin berhak dapat pendidikan kelas satu sama dengan orang kaya dan gratis.
(Lelaki 1 ketawa. Lelaki 2 geleng-geleng kepala. Orang yang disebelah yang tadi asik mainkan HP jadi ikutan nimbrung, begitupun yang duduk dibangku belakang terusik juga dengan obrolan mereka)

LAKI-LAKI3
“Aku setuju dengan penadapat pak guru, memang orang miskin berhak mendapatkan layanan pendidikan yang sama dan gratis! Tapi ada juga orang miskin yang sombong! Sudah dibantu dan gratis malah banyak tingkah!... Wah muridnya semakin banyak dong? Dan tentunya profit benefit semakin besar!
LAKI-LAKI1
Betul. Puluhan ribu muridku. Kebanyakan anak-anak orang gedean yang bisa membayar berapa saja, asal anaknya bisa pinter. Dalam tempo singkat Akademi yang aku bangun menjadi idola. Kalau tidak bawa ijazah Akademi punyaku orang merasa kurang bergengsi. Habis setiap lowongan kerja mesti syarat pertamanya menguasai bahasa Inggris dan komputer. Tapi kalau bawa ijazah Akademi punyaku, semua itu tidak berlaku lagi. Langsung diterima dengan gaji pertama yang bikin ngiler. Apa nggak hebat?
(Lelaki 4 muncul dari belakang membawa minuman dan beberapa makanan kecil)

LAKI-LAKI 3
“Ngomong-ngomong berapa usiamu pak guru? Setahuku usia pension guru atau dosen sekitar 60 tahun.

LAKI-LAKI 1
“55 umurku!...memangnya aku pegawai negeri dapat pensiunan! Aku paling ogah jadi pegawai negeri.

Oooooooo( yang lainnya berucap )

LAKI-LAKI 4
“Sudah minum dulu, nih aku bawakan. (Menarik nafas) Aku dulu juga seorang manager disebuah pabrik besar bahkan aku pernah menduduki kursi direksi. Siang malam otakku berputar untuk mengembangkan dan memajukan pabrik itu, aku rekrut tenaga kerja yang bodoh dan mau dibayar murah, tak peduli punya ijazah atau tidak! Fasilitas hidupku terpenuhi. Aku bentuk serikat pekerja dibawah pengawasanku, aku yang buat perjanjian kerja, mereka tinggal sepakat saja. Kadang aku undur seolah-olah belum ada kesepakatan. (yang lain mendengarkan dengan acuh tak acuh)
“Reformasi mengubah segalanya, ternyata musuh selimut di perusahaanku banyak, mereka pengaruhi para pekerja dan direksi, hingga akhirnya aku dikeluarkan dari perusahaan itu, harta bendaku yang selama ini hasil jerih payahku, semua diambil alih oleh perusahaan itu, aku dituduh korupsi, padahal tidak banyak yang aku markup, tapi jatuhnya sakit sekali. Sekarang ini aku tinggal sendiri, anak dan istriku pergi karena malu. Saat ini aku hanya seorang pekerja biasa, seorang petugas kebersihan sekolah.(agak sedikit malu)
“Ooooooo…… ( serentak semua yang mendengarkan berucap )

LAKI-LAKI5
“Wah…Rupanya kalian orang-orang yang hidup sukses… Tapi akhirnya hati kalian merana, ketika sesuatu telah merubah cara pandang hidup kalian. Wah masih mending aku yang seorang pedagang meski tidak sesukses kalian, daganganku lancar-lancar saja. Sudah Pak Guru kalau nanti sudah tidak mengajar, ikut aku saja berbisnis! Bisnisku tak layu termakan waktu!

LAKI-LAKI2
“Ssst! Pak Guru ini belum selesai ceritanya, lanjutkan Pak Guru….

LAKI-LAKI1
(Menarik nafas panjang, setelah meminum air yang diberikan) Tapi aku masih tetap kecewa. Aku memang selalu berhasil mencetak alumni yang berprestasi, yang cerdas dan kompetetif seperti yang dikehendaki oleh Mentri Pendidikan. Tapi aku tetap gagal mencetak manusia yang berguna. Setelah pintar, semua anak didikku mempergunakan ilmunya untuk kepentingan diri mereka sendiri. Jelas sekali mereka cari ilmu hanya untuk jadi kaya. Ada yang ngebet jadi pemimpin, tapi begitu menduduki kursi, mereka mempergunakan kekuasaannya untuk memperalat rakyat! Aku merasa gagal total! Kalau sekolah hanya mengajarkan orang untuk sukses, cari kedudukan, menumpuk kekuasaan dan kekayaan, akhirnya seperti sekarang korupsi di mana-mana. Mantan anak didikku semua jadi orang sukses.
Pemimpin kakap, berpengaruh dan konglomerat. Tapi tidak seorang pun yang berhati mulia. Semuanya berjiwa dengki. Tidak usah 1 milyar, disogok motor saja tetap mau, padahal di rumahnya berderet mobil-mobil mewah, bahkan ada becak untuk dipamerkan kepada tamu-tamu asing. Malah sekarang yang mudanya pun ikut-ikutan korupsi!? Ini kenapa? Pendidikan yang salah? Guru yang keliru? Apa Moral kita bejat? Atau hidup memang sudah berubah buas?????? ( Semua menghela nafas, lalu..)
Begitu frustasi sehingga aku mau gulung tikar menutup akademi. Tentu saja semua orang protes. Bahkan ada yang mengancam kalau kau berani menutup Akademi, berarti kamu mau bunuh diri. Tinggal pilih mau mati diracun seperti tikus, kecelakaan menggenaskan, ditembak di pinggir jalan, dibom, atau disantet perlahan-lahan. Aku ngeri juga, karena aku bukan manusia pemberani. Sambil tertekan batin aku terus mengajar dengan separuh hati. Tapi bukan menyerah apalagi kalah! Sekarang hidupku ditentukan oleh orang-orang Yayasan itu!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar