ADEGAN PERTAMA
Sebuah Bis pariwisata meluncur dengan kencang dijalan perbukitan kebun
teh, sore menjelang malam di pegunungan udaranya sangat sejuk terlihat
sinar matahari yang mulai perlahan tertutup tabir malam. Keindahan alam
pegunungan sangat nikmat dipandang mata menjelang malam. Dalam mobil bis
pariwisata itu terlihat para penumpangnya yang asik ngobrol, yang asik
mainkan hp dan ada beberapa tertidur pulas, karena perjalanan yang penat
dan panjang. Ternyata mereka habis mengadakan acara Reuni sekolah di
sebuah Villa besar di puncak bukit. Sudah 35 tahun mereka tak pernah
berjumpa sejak lulus sekolah, usia mereka rata-rata diatas 45 sampai 55
tahun. Kerinduan akan tawa dan canda dikala sekolah dulu. Perjalanan
hidup mereka membawa mereka kepada puncak pencapaian hidup Dunia, ada
yang sukses dan juga yang terpuruk. Perbedaan sikap dan prinsip yang
menentukan jalan hidup mereka. Memang misteri hidup ini???
Inilah kisah mereka…………
LAKI-LAKI1
“Aku guru yang hebat. Tanganku sangat luar biasa bisa mengocok kepala
batu dan otak udang menjadi cemerlang. Betul, aku tidak main-main. Aku
seperti tukang sulap. Itu semua sudah karunia. Tapi aku terpaksa keluar
dan berhenti mengajar. Aku tidak mau lagi jadi guru.
LAKI-LAKI2
“Loh kenapa berhenti mengajar? Setahuku itukan cita-citamu sejak
disekolah dulu…Karena kau tak suka cara guru waktu itu mengajar, Apalagi
kalau sudah pelajaran bahasa Inggris, kau bilang bukan bahasaku…tapi
sekarang kau guru bahasa inggris yang hebat!
LAKI-LAKI1
“Ya aku
tahu itu, Aku memang murid yang bandel saat itu, siapa guru yang tidak
kenal aku?! Tapi sekarang ini aku tidak suka, aku benci kepada
birokrasi. Aku lihat sekolah kok tidak lagi memberikan pendidikan kepada
calon pengganti generasi, tapi memperjual-belikan pendidikan. Ilmu
sudah jadi barang komoditi seperti hasil pabrik. Diicrit-icrit supaya
mahal. Publikasi dan fasilitasnya digembar-gemborkan, tapi hasilnya
memble. Pendidikan hanya menjual sertifikat dan gelar, tidak bikin orang
jadi pinter, apalagi siap
pakai.Bugh!
“Jadi jangan salahkan
kalau aku lantas kabur dan mendirikan Akademi dan kursus bahasa Inggris.
Sekolah mahal yang bergengsi dan bercita-cita mulia. Pendidikan yang
bagus memang mahal, tidak mungkin gratis, itu omong kosong. Gaji guru
mesti cukup karena mereka profesional, sarana mesti canggih supaya
jangan ketinggalan zaman. Tapi yang bayar orang yang berduit. Makin dia
kaya, makin tinggi bayarannya, itu sudah adil. Orang kaya dicekek tidak
akan mati malah hartanya berlipat ganda. Orang kaya kalau kehilangan
seperak akan langsung menggaruk sejuta tak peduli dari mana. Mereka
semuanya pemain sulap.
Orang miskin lain, belum ditembak sudah
pingsan, banyak yang mati mendadak!. Karena itu orang miskin berhak
dapat pendidikan kelas satu sama dengan orang kaya dan gratis.
(Lelaki 1 ketawa. Lelaki 2 geleng-geleng kepala. Orang yang disebelah
yang tadi asik mainkan HP jadi ikutan nimbrung, begitupun yang duduk
dibangku belakang terusik juga dengan obrolan mereka)
LAKI-LAKI3
“Aku setuju dengan penadapat pak guru, memang orang miskin berhak
mendapatkan layanan pendidikan yang sama dan gratis! Tapi ada juga orang
miskin yang sombong! Sudah dibantu dan gratis malah banyak tingkah!...
Wah muridnya semakin banyak dong? Dan tentunya profit benefit semakin
besar!
LAKI-LAKI1
Betul. Puluhan ribu muridku. Kebanyakan
anak-anak orang gedean yang bisa membayar berapa saja, asal anaknya bisa
pinter. Dalam tempo singkat Akademi yang aku bangun menjadi idola.
Kalau tidak bawa ijazah Akademi punyaku orang merasa kurang bergengsi.
Habis setiap lowongan kerja mesti syarat pertamanya menguasai bahasa
Inggris dan komputer. Tapi kalau bawa ijazah Akademi punyaku, semua itu
tidak berlaku lagi. Langsung diterima dengan gaji pertama yang bikin
ngiler. Apa nggak hebat?
(Lelaki 4 muncul dari belakang membawa minuman dan beberapa makanan kecil)
LAKI-LAKI 3
“Ngomong-ngomong berapa usiamu pak guru? Setahuku usia pension guru atau dosen sekitar 60 tahun.
LAKI-LAKI 1
“55 umurku!...memangnya aku pegawai negeri dapat pensiunan! Aku paling ogah jadi pegawai negeri.
Oooooooo( yang lainnya berucap )
LAKI-LAKI 4
“Sudah minum dulu, nih aku bawakan. (Menarik nafas) Aku dulu juga
seorang manager disebuah pabrik besar bahkan aku pernah menduduki kursi
direksi. Siang malam otakku berputar untuk mengembangkan dan memajukan
pabrik itu, aku rekrut tenaga kerja yang bodoh dan mau dibayar murah,
tak peduli punya ijazah atau tidak! Fasilitas hidupku terpenuhi. Aku
bentuk serikat pekerja dibawah pengawasanku, aku yang buat perjanjian
kerja, mereka tinggal sepakat saja. Kadang aku undur seolah-olah belum
ada kesepakatan. (yang lain mendengarkan dengan acuh tak acuh)
“Reformasi mengubah segalanya, ternyata musuh selimut di perusahaanku
banyak, mereka pengaruhi para pekerja dan direksi, hingga akhirnya aku
dikeluarkan dari perusahaan itu, harta bendaku yang selama ini hasil
jerih payahku, semua diambil alih oleh perusahaan itu, aku dituduh
korupsi, padahal tidak banyak yang aku markup, tapi jatuhnya sakit
sekali. Sekarang ini aku tinggal sendiri, anak dan istriku pergi karena
malu. Saat ini aku hanya seorang pekerja biasa, seorang petugas
kebersihan sekolah.(agak sedikit malu)
“Ooooooo…… ( serentak semua yang mendengarkan berucap )
LAKI-LAKI5
“Wah…Rupanya kalian orang-orang yang hidup sukses… Tapi akhirnya hati
kalian merana, ketika sesuatu telah merubah cara pandang hidup kalian.
Wah masih mending aku yang seorang pedagang meski tidak sesukses kalian,
daganganku lancar-lancar saja. Sudah Pak Guru kalau nanti sudah tidak
mengajar, ikut aku saja berbisnis! Bisnisku tak layu termakan waktu!
LAKI-LAKI2
“Ssst! Pak Guru ini belum selesai ceritanya, lanjutkan Pak Guru….
LAKI-LAKI1
(Menarik nafas panjang, setelah meminum air yang diberikan) Tapi aku
masih tetap kecewa. Aku memang selalu berhasil mencetak alumni yang
berprestasi, yang cerdas dan kompetetif seperti yang dikehendaki oleh
Mentri Pendidikan. Tapi aku tetap gagal mencetak manusia yang berguna.
Setelah pintar, semua anak didikku mempergunakan ilmunya untuk
kepentingan diri mereka sendiri. Jelas sekali mereka cari ilmu hanya
untuk jadi kaya. Ada yang ngebet jadi pemimpin, tapi begitu menduduki
kursi, mereka mempergunakan kekuasaannya untuk memperalat rakyat! Aku
merasa gagal total! Kalau sekolah hanya mengajarkan orang untuk sukses,
cari kedudukan, menumpuk kekuasaan dan kekayaan, akhirnya seperti
sekarang korupsi di mana-mana. Mantan anak didikku semua jadi orang
sukses.
Pemimpin kakap, berpengaruh dan konglomerat. Tapi tidak
seorang pun yang berhati mulia. Semuanya berjiwa dengki. Tidak usah 1
milyar, disogok motor saja tetap mau, padahal di rumahnya berderet
mobil-mobil mewah, bahkan ada becak untuk dipamerkan kepada tamu-tamu
asing. Malah sekarang yang mudanya pun ikut-ikutan korupsi!? Ini kenapa?
Pendidikan yang salah? Guru yang keliru? Apa Moral kita bejat? Atau
hidup memang sudah berubah buas?????? ( Semua menghela nafas, lalu..)
Begitu frustasi sehingga aku mau gulung tikar menutup akademi. Tentu
saja semua orang protes. Bahkan ada yang mengancam kalau kau berani
menutup Akademi, berarti kamu mau bunuh diri. Tinggal pilih mau mati
diracun seperti tikus, kecelakaan menggenaskan, ditembak di pinggir
jalan, dibom, atau disantet perlahan-lahan. Aku ngeri juga, karena aku
bukan manusia pemberani. Sambil tertekan batin aku terus mengajar dengan
separuh hati. Tapi bukan menyerah apalagi kalah! Sekarang hidupku
ditentukan oleh orang-orang Yayasan itu!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar