RANCANGAN
PEMENTASAN
TEATER
TAHUN 2012
“
LONCENG DAN PARA PENIPU “
Naskah
karya Bambang Oeban
Dipentaskan
Teater
EMPUL
JAKARTA
AWALAN
Sebuah komunitas anak SMA
40 yang gandrung akan seni peran membuat gagasan pementasan ketika saat ini
usia mereka sudah di angka 40+. Akankah mampu mewujudkan kreatifitas dan
aktivitas sebuah pertunjukkan… lihat saja nanti…!!!!!
Tak ada salahnya sebuah ide
diciptakan dan mencoba bernostalgia dengan kemampuan yang ada saat ini.
Tak ada salahnya berbagi
dengan komunitas lain yang sejalan dan seirama dalam alunan nada-nada
kontemporer.
Tapi ada beberapa komunitas
binaan yang menawari ikut terlibat dan mau bekerjasama dalam pementasan ini, ya
sudah kita akan berkolaborasi dan bersinergi, mudah-mudahan ini akan menjadi
sesuatu yang akan mendobrak format sebuah pertunjukkan.
Kita Do’akan saja!!!!!.....
SINOPSIS
Akibat musim kemarau panjang, penduduk dikaki gunung kidul menghadapi ujian yang begitu berat. Mereka tidak dapat bertani disebabkan, sawah dan sungai kekeringan air, dan menjelma menjadi hamparan tanah yang meretak. Musibah kelaparan dimana-mana. Berbagai penyakit merajalela. Berita kematian seringkali terjadi.
Termasuk berdampak pada keluarga
Parmin. Bagaimana ia tidak bingung, disamping uang simpanannya habis, ia juga
terjerat oleh pinjaman uang yang berbunga. Parmin menolak ketika Ponirah
(istrinya) menganjurkan untuk mencari kayu ke gunung. Beresiko berat karena
pohon-pohon di gunung dalam pengawasan Negara.Ia tidak ingin nasibnya seperti
Paino, mendekam di penjara karena terlibat kasus pencurian kayu.
Padahal Parmin masih mempunyai
barang berharga yang bisa dijual yaitu seekor kerbau. Sehubungan kerbau
tersebut merupakan warisan dari alm. Ayahnya, Parmin senantiasa menjaga amanah
agar Lenguh (nama kerbau) jangan sampai dijual, sekalipun dalam keadaan ekonomi
sulit. Parmin takut untuk menjual kerbaunya.
Ibu Surti sebagai penagih hutang,
mengancam: apabila dalam waktu 3 hari, Parmin tidak bisa melunasi hutang yang
jumlahnya jutaan rupiah, maka dengan terpaksa kerbau akan diambil. Dan
bertepatan saat itu pula, tiba-tiba onah (anak Parmin) terserang penyakit. Ia
dan istrinya bertambah kalut. Mereka khawatir kalau nasib Onah, seperti
kakaknya, meninggal dunia karena sakit.
Pada akhirnya, Parmin harus
merelakan kerbaunya untuk dijual, karena kebutuhan ekonomi sangat mendesak.
Tapia pa yang terjadi?
Parmin ditipu oleh
Gento, Gendon, dan Gembor. Dengan alasan, saat ini, kerbau harganya jatuh
karena tersebar isu penyakit kerbau gila, Parmin tersugesti dan melepas kerbaunya
kepada Gento dengan harga murah, Parmin hanya minta kalung kerbaunya sebagai
kenang-kenangan.
Pada saat Gento,
Gendon, dan Gembor pesta mabuk, Parmin mengintip mereka dan tahu kalau
kerbaunya dijual dengan harga tinggi, Parmin kesal. Ia pun mendapatkan akal
bagaimana uang hasil penjualan kerbau, bisa didapatkannya. Parmin bekerjasama
dengan beberapa pedagang.
Gento, Gendon, dan Gembor
terkagum-kagum menyaksikan bahwa lonceng lenguh (lonceng kerbau) yang dipakai
Parmin berkhasiat.
Hanya dengan menggeleng-gelengkan
kepala, bisa makan, bisa mendapatkan kaca mata, dan dapat hand phone, semua
serba gratis. Mereka ingin sekali memiliki lonceng lenguh.
Akhirnya, Parmin menyuruh istrinya
menyamar sebagai Nyai Mpon-mpon (seorang dukun). Lonceng lenguh pun dihargai 12
juta rupiah oleh komplotan Gento.
Ketika Gento, Gendon,
dan Gembor mempraktikan lonceng lenguh ke toko emas, ternyata tidak berhasil.
Walhasil, malahan mereka jadi korban amuk massa,
hingga babak belur. Bahkan dipenjara, dianggap telah melakukan perampokan.
Setelah Onah sembuh dan dapat
melunasi hutangnya, dengan uang yang tersisa, Parmin pun segera mengajak
keluarganya untuk bertransmigrasi ke tanah seberang. Ia tidak ingin kehidupan
keluarganya, seperti kemarau yang panjang. Betapa Ia
merindukan suasana lingkungan alam yang masih hijau demi menyongsong masa
depan.
Sekian..
Naskah
Karya : Bambang Oeban
Sutradara : Edi Salemba

Tidak ada komentar:
Posting Komentar