Teater EMPUL

Media untuk saling share sesama anggota juga sesama teater seIndonesia . .. . .

Rabu, 30 Oktober 2013

Sinopsis Lonceng dan Sang Penipu

RANCANGAN
PEMENTASAN TEATER
TAHUN 2012



“ LONCENG DAN PARA PENIPU “
Naskah karya Bambang Oeban

Dipentaskan Teater  EMPUL
JAKARTA



AWALAN

Sebuah komunitas anak SMA 40 yang gandrung akan seni peran membuat gagasan pementasan ketika saat ini usia mereka sudah di angka 40+. Akankah mampu mewujudkan kreatifitas dan aktivitas sebuah pertunjukkan… lihat saja nanti…!!!!!
Tak ada salahnya sebuah ide diciptakan dan mencoba bernostalgia dengan kemampuan yang ada saat ini.
Tak ada salahnya berbagi dengan komunitas lain yang sejalan dan seirama dalam alunan nada-nada kontemporer.
Bisa jadi ini sebuah pertunjukkan yang dahsyat atau malah sebaliknya, tertatih-tatih, maklum saja.
Tapi ada beberapa komunitas binaan yang menawari ikut terlibat dan mau bekerjasama dalam pementasan ini, ya sudah kita akan berkolaborasi dan bersinergi, mudah-mudahan ini akan menjadi sesuatu yang akan mendobrak format sebuah pertunjukkan.
Kita Do’akan saja!!!!!.....

SINOPSIS
         

   Akibat musim kemarau panjang, penduduk dikaki gunung kidul menghadapi ujian yang begitu berat. Mereka tidak dapat bertani disebabkan, sawah dan sungai kekeringan air, dan menjelma menjadi hamparan tanah yang meretak. Musibah kelaparan dimana-mana. Berbagai penyakit merajalela. Berita kematian seringkali terjadi.
            Termasuk berdampak pada keluarga Parmin. Bagaimana ia tidak bingung, disamping uang simpanannya habis, ia juga terjerat oleh pinjaman uang yang berbunga. Parmin menolak ketika Ponirah (istrinya) menganjurkan untuk mencari kayu ke gunung. Beresiko berat karena pohon-pohon di gunung dalam pengawasan Negara.Ia tidak ingin nasibnya seperti Paino, mendekam di penjara karena terlibat kasus pencurian kayu.
            Padahal Parmin masih mempunyai barang berharga yang bisa dijual yaitu seekor kerbau. Sehubungan kerbau tersebut merupakan warisan dari alm. Ayahnya, Parmin senantiasa menjaga amanah agar Lenguh (nama kerbau) jangan sampai dijual, sekalipun dalam keadaan ekonomi sulit. Parmin takut untuk menjual kerbaunya.
            Ibu Surti sebagai penagih hutang, mengancam: apabila dalam waktu 3 hari, Parmin tidak bisa melunasi hutang yang jumlahnya jutaan rupiah, maka dengan terpaksa kerbau akan diambil. Dan bertepatan saat itu pula, tiba-tiba onah (anak Parmin) terserang penyakit. Ia dan istrinya bertambah kalut. Mereka khawatir kalau nasib Onah, seperti kakaknya, meninggal dunia karena sakit.
            Pada akhirnya, Parmin harus merelakan kerbaunya untuk dijual, karena kebutuhan ekonomi sangat mendesak. Tapia pa yang terjadi?
Parmin ditipu oleh Gento, Gendon, dan Gembor. Dengan alasan, saat ini, kerbau harganya jatuh karena tersebar isu penyakit kerbau gila, Parmin tersugesti dan melepas kerbaunya kepada Gento dengan harga murah, Parmin hanya minta kalung kerbaunya sebagai kenang-kenangan.
Pada saat Gento, Gendon, dan Gembor pesta mabuk, Parmin mengintip mereka dan tahu kalau kerbaunya dijual dengan harga tinggi, Parmin kesal. Ia pun mendapatkan akal bagaimana uang hasil penjualan kerbau, bisa didapatkannya. Parmin bekerjasama dengan beberapa pedagang.
            Gento, Gendon, dan Gembor terkagum-kagum menyaksikan bahwa lonceng lenguh (lonceng kerbau) yang dipakai Parmin berkhasiat.
Hanya dengan menggeleng-gelengkan kepala, bisa makan, bisa mendapatkan kaca mata, dan dapat hand phone, semua serba gratis. Mereka ingin sekali memiliki lonceng lenguh.
          Akhirnya, Parmin menyuruh istrinya menyamar sebagai Nyai Mpon-mpon (seorang dukun). Lonceng lenguh pun dihargai 12 juta rupiah oleh komplotan Gento.
Ketika Gento, Gendon, dan Gembor mempraktikan lonceng lenguh ke toko emas, ternyata tidak berhasil. Walhasil, malahan mereka jadi korban amuk massa, hingga babak belur. Bahkan dipenjara, dianggap telah melakukan perampokan.
            Setelah Onah sembuh dan dapat melunasi hutangnya, dengan uang yang tersisa, Parmin pun segera mengajak keluarganya untuk bertransmigrasi ke tanah seberang. Ia tidak ingin kehidupan keluarganya, seperti kemarau yang panjang. Betapa Ia merindukan suasana lingkungan alam yang masih hijau demi menyongsong masa depan.

Sekian..


Naskah Karya                : Bambang Oeban

Sutradara                      : Edi Salemba

Produksi                       : Teater EMPUL

Tidak ada komentar:

Posting Komentar